PROFIL KAMPUNG DAMAI
I. Apa dan Mengapa “KAMPUNG DAMAI”
Kelurahan Perbutulan Sumber Cirebon, tempat dimana Pondok Pesantren Kampung Damai berdiri, dahulu bernama Kampung Dukumulo yang sangat dikenal dengan dunia hitamnya. Sejarah kemudian mencatat peran Ki Mas Maliman (Syeikh Kamalul Iman), seorang mujahid dari Mataram, mengakhiri dunia hitam Kampung Dukumulo menjadi kampung damai, bantas dan butul ( bahasa Jawa yang berarti : futuh, berhasil, terbuka, menang), sehingga kemudian melekatkan namanya menjadi Perbutulan.
Di Desa Perbutulan, Kyai Arief (KH. Raden Kartajumena, turunan ke-12 dari Syeikh Syarief Hidayatullah) membangun masjid dan rumah. Sejak saat itu masyarakat sekitar tidak lagi pergi melaksanakan shalat Jum’at ke Masjid Agung Kasepuhan Cirebon. Itulah pula sebabnya mengapa Masjid Perbutulan tidak berdekatan dengan lokasi Balai Desa pada umumnya. Selanjutnya mengingat penduduknya yang relatif masih sedikit, Pemerintah Desa dan masyarakat Perbutulan tidak memandang perlu membangun masjid baru, apalagi pelaksanaan shalat Jum’at di masjid yang dibangun Kyai Arief tersebut sudah turun temurun yang didukung dengan sosok/figur Pesantren. Di Desa Perbutulan, sekolah/lembaga pendidikan yang ada pada saat itu hanya madrasah dan baru pada tahun 1976 masuk Sekolah Dasar (SD) Inpres.
Pada tahun 1930-an, Desa Perbutulan sudah ramai dengan orang mengaji, santri berdatangan dari dusun sekitar sampai luar daerah. Sebagian mereka ada yang mukim dan ada yang pulang pergi, dan ada pula yang sampai berkeluarga dan beranak cucu, tidak kembali ke daerah asalnya. Mereka yang datang itu selain dari wilayah Jawa Barat, juga dari Jawa Tengah ( Pemalang, Pekalongan), dan sampai dari Surabaya Jawa Timur.
Dalam perkembangan selanjutnya, keberadaan Pondok tidak dapat dipertahankan lagi, terkecuali hanya masjid saja.Kemudian pada tahun 1995, dalam kiprah dakwah, ikut berperan serta di era pembangunan, dari cicit – cucu pendahulunya seorang pengemban amanat, melangsungkan wasiat para sepuh al-maghfurin lahum, ia merintis dan membangun kembali Pondok Pesantren dengan nama “Kampung Damai” di areal sekitar masjid.
II. Gambaran Umum
Balai Pendidikan dan Dakwah Pondok Pesantren “kampung Damai” berbentuk dan berjiwa Pondok Pesantren, mempertahankan serta memperjuangkan ruh semangat kepesantrenan dalam kebersamaan usaha mencerdaskan kehidupan bangsa.
Program Pondok Pesantren Kampung Damai adalah meningkatkan kualitas sumber daya generasi muda dalam rangka mempersiapkan kader ummat yang beriman dan bertaqwa, berakhlaq mulia, berilmu dan beramal agar mereka dapat hidup berdaya guna pada zamannya.
III. Status Lembaga
Pondok Pesantren Kampung Damai berstatus swasta penuh, berbadan hukum dengan Akte Notaris Iskandar Wiramiharja No. 65.
IV. Visi dan Misi
VISI ” Menjadi pusat pendidikan dan dakwah yang unggul, membentuk kader yang mandiri, berakhlak mulia, kreatif dan berkualitas menuju ridho ilahi.”
Berikut adalah misi yang bisa mendukung visi Balai Pendidikan dan Dakwah Kampung Damai:
Misi:
- Menyelenggarakan program pendidikan agama dan umum yang berkualitas untuk semua lapisan masyarakat.
- Mempersiapkan kader-kader yang bertaqwa, berakhlak Karimah dan berilmu agar mereka dapat hidup berdaya guna pada zamannya.
- Menjadi wadah pembinaan generasi muda agar menjadi insan yang cerdas, berakhlak, dan bertanggung jawab.
- Menjalin kerja sama dengan lembaga keagamaan, pendidikan, dan pemerintahan untuk memperkuat peran pesantren dalam pembangunan masyarakat.
Nilai-Nilai Inti (Core Values):
Ilmu – Mengedepankan pencarian dan penyebaran ilmu yang bermanfaat.
Akhlaq – Menanamkan nilai-nilai moral dan etika Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Kebersamaan – Membangun ukhuwah dan gotong royong antarwarga.
Kepedulian – Menumbuhkan semangat membantu sesama dan peduli lingkungan.
Amanah – Menjalankan setiap tugas dan tanggung jawab dengan jujur dan dapat dipercaya.
V. Letak Geografis
Pondok Pesantren Kampung Damai terletak di Kelurahan Perbutulan Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Lokasi Pondok dimaksud hanya sekitar 2 km dari pusat kota dan kompleks Perkantoran Pemkab Cirebon, memungkinkan untuk akses informasi yang lebih cepat dan transportasi yang lebih mudah
VI. Sistem Pendidikan
A. Program Pengajaran Kulliyatul Mu’allimien Al-Islamiyah (KMI) tingkat SLTP / SMU masa belajar 6 (enam) tahun.
• Kelas Intensif bagi lulusan SLTP/MTs masa belajar 4 (empat) tahun.
• Dieniyah Wustho 3 (tiga) tahun, waktu belajar siang hari.
B. Meberlakukan hidup disiplin dalam segala aktifitas sehari-hari.
C. Menerapkan penggunaan Bahasa Arab dan Inggris dalam penyajian pelajaran dan pergaulan.
D. Membina dan mengembangkan kegiatan ekstra kurikuler serta menyalurkan bakat dan minat santri.
